Dewasa ini generasi di era milenial menjadi topik yang cukup hangat
di kalangan masyarakat, mulai dari segi pendidikan, teknologi maupun moral dan
budaya. Tapi siapakah generasi milenial yang sebenarnya, yang sangat berperan
dan berfungsi bagi bangsa kita?
Era milenial begitu erat dengan kecanggihan berbagai teknologi. Dimana
salah satunya informasi bisa dengan mudah di dapat melalui internet. Lalu
bagaimana dengan mahasiswa yang dapat dikatakan bahwa mereka merupakan generasi
yang melek pada teknologi digital?
Secara umum tugas dari mahsiswa di era milenial ini adalah untuk melakukan
kegiatan pendidikan, penelitian, dan melakukan pengabdian kepada masyarakat.
Maka dari itu mahasiswa diharapkan menjadi “Agent of Change at Local Distric”,
yakni menjadi agen perubahan di daerahnya masing-masing. Mahasiswa harus mampu
untuk hadir ikut serta dalam penyelesaian permasalahan di daerahnya, menjadi
social control yang dapat mengontrol keadaan sosial dengan memberikan kritik
dan saran dalam permasalahan sosial bangsa di daerahnya.
Namun untuk saat ini peran dan fungsi dari mahasiswa seperti semakin tidak
ada gunanya. Salah satunya, dulu mahasiswa dianggap kaum yang menentang politik
yang jelek dengan sikap kritisnya, tapi sekarang tidak dianggap seperti itu.
Mahasiswa justru dianggap kaum yang argumennya lemah oleh pemerintah. Mahasiswa
sekarang tendensinya tinggi tapi krisis argumentasi. Dibalik kecanggihan
teknologi, justru mereka semakin dianggap kaum yang apatis. Yang hanya diam
di tempat dan tidak bisa mewakili kata hati rakyat. Lalu dimanakah identitas
mahasiswa yang dulu dianggap kaum akamdemis dengan pemikiran pemikiran
kritisnya dalam menyikapi persoalan rakyat?
Salah satu contoh permasalahannya, ketika harga BBM mengalami kenaikan.
Hanya ada beberapa mahasiswa yang sadar dan kebanyakan mereka tidak merasa itu
mesti dibenarkan atau diperbaiki. Untuk saat ini mahasiswa lebih dikenal dengan
kaum marginalis, mereka disisihkan salah satunya di bidang politik ini. Argumen
mereka lebih tidak dianggap oleh pemerintah maupun masyarakat. Mahasiswa
menjadi kaum yang lemah dan kalah dari teknologi yang lebih menguasai mereka
dengan fitnah.
Lalu dimanakah peran dan fungsi dari mahasiswa yang dianggap kaum akademis
dengan pemikirannya yang kritis, namun tidak peka dan tidak kontrol terhadap
terhadap pembodohan dan ketidakadilan yang dilakukan oleh para pemimpin bangsa
terhadap rakyatnya. Kita sebagai mahasiswa seharusnya berpikir bagaimana cara
mengembalikan dan mengubah semua ini. Perubahan yang positif dan tidak
menghilangkan jati diri serta identitas kita sebagai mahasiswa. Namun untuk
mengubah sebuah tatanan negara, dengan merubah diri sendiri terlebih dahulu
yang lebih utama.
Sebagai mahasiswa, jangan hanya mau diangkap anarkis atau apatis karena
tipu daya dari adanya perkembangan teknologi di era milenial ini oleh
pemerintah atau masyarakat. Kita harus membuktikan bahwa ditangan generasi
mudalah perubahan-perubahan besar terjadi. Serta kita harus menyadarkan kepada
orang banyak bahwa mahasiswa juga sebagai dukungan untuk menyejahterakan
rakyat.
Bukan tidak mungkin jika sosok pemimpin dan negarawan yang selama ini kita
dambakan, kita impikan akan lahir dari mahasiswa. Maka lengkaplah jiga
mahasiswa menjadi “Agent of Change of Distric” hingga suatu saat nanti bangsa
ini akan menyadari bahwa mahasiswa adalah generasi yang ditunggu bangsa ini,
anak bangsa yang akan memimpin bangsanya.
No comments:
Post a Comment